Jumat, 22 Juni 2012

Kenapa saya ingin Jadi BIDAN??

“Kenapa Aku Ingin menjadi Bidan”
Dua tahun lalu defenisi abstrak tentang profesi Bidan masih terselubung dalam pikiran saya. Memilih jurusan Kebidanan dua tahun silam menjadi teka-teki sendiri bagiku, saran dari orangtua mungkin jadi alternative jawabannya. Hingga akhirnya di akhir proses perkuliahan semester IV defenisi abstrak itu lambat laun mulai terjawab. Kini rangkaian kata untuk mendefenisikan profesi Bidan sudah terkonsep di pikiran. “Bidan merupakan sahabat wanita dengan multi dimensi yang bersifat unik”.
Keunikan yang dimiliki oleh setiap wanita mendorong saya untuk lebih menata diri dengan mempersiapkan, memperbaiki dan meningkatkan kemampuan afektif, kognitif dan psikomotor, demikian 3 aspek penting yang harus dimiliki oleh profesi Bidan tutur salah satu Dosen kala masa orientasi dua tahun lalu. Proses KBM tersistematis dan berkesinambungan yang dirancang dan dijadwalkan mulai awal perkuliahan sampai sekarang saya yakini dapat menjadi pondasi besar guna pemantapan kemampuan afektif, kognitif dan psikomotor yang harus dimiliki oleh tenaga Bidan seperti yang dituturkan ibu Dosen kala masa orientasi dahulu.
Kemampuan afektif merupakan kemampuan Bidan dalam menyikapi pasien guna memperoleh data, menemukan masalah  lalu menetapkan kebutuhan.Mata kuliah Etika Umum, Komunikasi dan Konseling memantapkan kemapuan Afektif ini. Kemampuan Kognitif bercerita tentang kemampuan Pengetahuan Bidan sebagai landasan dalam menetapkan kebutuhan dan rencana asuhan yang diberikan secara cepat dan tepat, mata kuliah Obstetri dan Gynekologi menjawab kemampuan ini. Kemampuan Psikomotor merupakan keterampilan Bidan dalam memberi asuhan kepada pasien sesuai kebutuhannya. Setelah dimantapkan dalam segi sikap dan pengetahuan kemampuan psikomotor diwujudkan dalam praktik asuhan. Mata kuliah Asuhan Kebidanan Kehamilan, Persalinan, Nifas, KB, Neonatus, bayi dan Balita serta Patologi Kebidanan             menjawab kemampuan ini.
Dengan berjalannya waktu, proses pengenalan akan profesi Bidan semakin matang ketika saya mengikuti Praktik Klinik Kebidanan di semester IV tepatnya bulan Juni 2011. Menjalani hari-hari di Bidan Praktik Swasta terekam di memori akan aplikasi pelayanan Asuhan kebidanan yang saya temui di Praktik Klinik jauh dari standard asuhan yang saya pelajari di kampus mulai dari pemeriksaan antenatal yang tidak komprehensif juga asuhan-asuhan lainnya.
Melihat kesenjangan antara standard yang ditetapkan dengan apa yang terjadi di praktek yang terdapat di masyarakat mendorong saya untuk memiliki tekad bulat untuk mempersiapkan diri menuju tenaga Bidan Profesional.
“Profesional” : Profesi yang bekerja sesuai standard, profesi yang memberi kepuasan kepada masyarakat , profesi yang tidak hanya berfokus pada proses pertolongan persalinan saja. Keprofesionalan Bidan yang melingkupi pada siklus Kesehatan Reproduksi pada wanita mulai dari lahir /BBL hingga masa lansia/ Menopause kelak dapat saya miliki dan aplikasikan selepas terjun ke dunia kerja nantinya.
Bergerak dari upaya wewenang Bidan yakni upaya Promotif dan Preventif saya bertekad mengaplikasikan keprofesionalan tersebut  guna meningkatkan derajat kesehatan bangsa. Mulai dari asuhan BBL dan bayi  melalui perawatan tali pusat dan imunisasi ; asuhan pada balita berupa pemantauan tumbuh kembang ; asuhan pada remaja berupa promosi Kesehatan tentang Kesehatan Reproduksi beserta pencegahan PMS ; asuhan pada WUS berupa Promosi imunisasi Tetanus Toksoid, tes Penyakit Menular seksual serta konseling Pra nikah ; asuhan pada Ibu hamil berupa pemeriksaan  Antenatal care; asuhan pada Ibu bersalin berupa 58 langkah asuhan Persalinan normal ; asuhan pada Ibu nifas berupa promosi pemantauan involusio ; asuhan pada masa antara berupa konseling KB ; asuhan pada Ibu perimenopause berupa promosi deteksi dini Ca mamae yakni sadari dan tes IVA guna deteksi Ca. Serviks.
Kesinambungan asuhan Kebidanan diatas membutuhkan tenaga Bidan yang konsisten terhadap ilmu yang ia serap. Kembali ke defenisi Bidan yang terkonsep pada pemikiran ; “Bidan merupakan sahabat wanita dengan multi dimensi”. Sahabat identik dengan kedekatan, keakraban, kekompakan dan keterbukaan . Disini sahabat memiliki keleluasaan dalam menceritakan apa yang terjadi padanya, menyampaikan keluhan yang ia alami kepada Bidan dan tuntutan bagi seorang Bidan  menjadi seorang pendengar yang baik; tempat yang nyaman untuk berkeluh kesah ; penting  bagi Bidan dalam menanamkan sikap peduli, peka, tenggang rasa dan teliti dalam menganalisa situasi di sekitarnya. Proses analisa situasi tersebut dapat menjadi strategi pendekatan Bidan terhadap multi dimensi yang dimiliki terhadap keutuhan individu seorang wanita, “sahabatnya”. Multi Dimensi tersebut berupa dimensi Psikis, Bio dan spiritual
Dimensi Psikis yakni tidak ada wanita yang tidak memiliki perbedaan pada  psikis/kejiwaannya ketika diberi aksi yang sama sekalipun, masing-masing memberikan  reaksi psikis yang berbeda-beda terhadap aksi yang mereka alami dan temukan. Dimensi Bio yakni tidak ada wanita yang tidak memiliki perbedaan kebutuhan  sekalipun mereka memiliki tugas dan peran yang sama,. Dimensi Spritual yakni tidak ada wanita yang tidak memiliki perbedaan kebutuhan spiritual sekalipun diberikan suatu beban dan tanggung jawab yang sama.
Ketiga dimensi ini membuat wanita itu merupakan suatu sosok yang “unik”. Oleh karena itu penataan diri masih perlu diperbaiki menuju tenaga Bidan Profesional yang konsisten menyerap dan mengaplikasikan ilmu Kebidanan di masyarakat terkususnya di kalangan wanita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar